Sri Rejeki
Saat memulai hari, sempat lupa bahwa hari ini Hari Ibu. Untungnya sempat sarapan blognya Bu Enny. Jadi saya pingin mengucapkan,
Selamat Hari Ibu, kepada Ibu di seluruh Indonesia. Untuk Mamiku tersayang, I love you, Mom
![]()
——————————————————————————————————————————
Konon ada sebuah restoran seafood yang cukup terkenal di daerah Nongsa, di seberang Bandara Hang Nadim. Konon katanya, restoran ini menjorok ke arah laut sehingga para pengunjung merasa seolah-olah makan di atas laut. Konon katanya lagi, restoran ini memiliki pesona kuliner yang luar biasa, sehingga harganya yang konon membuat geger dunia persilatan, tidak menjadi halangan bagi pengunjung yang senantiasa ramai.
Kebetulan ada seorang teman kantor yang mendapatkan tugas dinas di luar negri. Kami teman seruangannya diundang untuk makan siang di restoran tersebut. Jadilah kemarin siang saya berkesempatan untuk mencicipi sajiannya.
Makanannya
Menu yang kami pesan antara lain kepiting saus pedas, ikan kerapu steam, cah kangkung, udang bawang putih, otak-otak, dan sup asparagus.
Kepiting saus pedasnya enak euy. Walaupun sausnya memiliki rasa yang kuat, tapi manisnya daging kepiting masih terasa. Ikan steam-nya juga enyak enyak enyak. Padahal biasanya saya paling malas makan ikan karena pernah merasakan yang anyir. Ikan yang ini tidak amis. Dagingnya lembut dan manis. Masakan yang lainnya lumayanlah.
Suasananya
Restoran berbentuk persegi panjang, dengan tiga sisinya menghadap ke arah laut. Bangunan berbentuk pondok kayu besar yang sepertinya ingin memberikan nuansa santai. Namun menurut saya penataannya kurang apik. Meja-meja panjang tumplek blek di dalam pondok besar tersebut sehingga saya merasa agak sumpek, gelap, serta berisik. Mungkin jika setiap meja terletak di dalam pondok-pondok kecil yang terpisah, seperti Pondok Daun, Bandung atau Pondok Laguna, Jakarta atau salah satu restoran Sunda di Depok *lupa namanya*, akan terasa lebih nyaman dan privat bagi pengunjung.
Harganya
Kami terdiri dari 15 orang dewasa dengan kemampuan makan yang tergolong rata-rata *kecuali saya yang masih dalam masa pertumbuhan
* dan 5 anak-anak (4 diantaranya masih balita). Total biaya yang harus dibayarkan 1.8 juta rupiah.
Kesimpulannya
Kalaulah ada rejeki berlebih dan sedang di Batam, bolehlah restoran ini dimasukkan dalam daftar wisata kuliner.

Filed under: Batam, Culinary | 4 Comments



ngitung pake kalkulator..1.8 : (15+4) = ???
Situ kalo diundang makan-makan..kok selalu melupakan saya lhoo..
Edel,
Wahh…mungkin mirip restoran Jumbo di Hongkong ya. Kalau yang di Hongkong penataannya menarik, bahkan pengunjung bisa berfoto ala raja dan permaisuri kerajaan China tempo dulu.
Tapi restoran di Batam tsb enak kan…dan harga Rp.1,8 juta untuk 15 orang ( 9 anak-anak) masih relatif murah.
Met Hari Ibu~ *telat*
Ah, kalo ga diteraktir, percumaaaa…
*kebiasaan mahasiswa, minta ditraktir mulu*
lo Sin, bukannya yg dibayar 2.8 ya ?
wah, kyknya ada versi resmi dan tidak resmi nih ?
ccthanks fotonya diupload, aku keliatan tuh (hehe pengumuman), lg gendong si kecil