Archive Page 2

A While

05Feb08

Been a while since my last post. Gw pulang Jakarta hampir sebulan dan gak ada akses internet. Jadi maap untuk para fans yang telah menantikan tulisan gw *kek ada aja :P *

Bulan Januari adalah bulan yang sangat berat bagi gw dan keluarga karena kami kehilangan seorang anggota keluarga setelah perjuangan selama hampir 1 bulan di rumah sakit. Sekarang gw dan keluarga udah ikhlas. Till we meet again in heaven, love you and miss you so much, Pa.

Banyak hikmah yang gw peroleh selama sebulan ini. Dari kejadian-kejadian ajaib yang menempeleng, tambahan pengetahuan medis serta pelayanan rumah sakit yang it’s all ’bout the money. Tapi itu kali lain aja diceritain.

Sekarang gw lagi senang karena beberapa jam lagi gw akan kembali ke rumah untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Bagi yang merayakan, Happy Chinese New Year. May the new year bring you happiness and good fortune :)

New Year 2008


Gong Xi Fa Cai (Selamat dan semoga berkelimpahan)
Xin Nian Kuai Le (Tahun baru yang bahagia)
Wan shi ru yi (Puluhan ribu urusan lancar)
Hung Bao Na Lai (Ang pao bawa kemari :P )

PS: Gambar diambil dari sini


Beberapa hari yang lalu gw ketemu sebuah blog bagus dan ketemu tulisan tentang kelompok gay di Iran yang hak asasinya disunat, yang dikisahkan dalam film dokumenter berjudul “Out of Iran”. Iseng-iseng gw cari di yutub, ketemu liputannya yang ditayangkan oleh televisi Kanada.

Promises

PromisesDan memang gw lagi beruntung. Di bagian related-clip, gw menemukan sebuah filem dokumenter berjudul Promises. Filem ini menampilkan opini tentang konflik Israel-Palestina dari sudut pandang anak-anak Israel-Palestina yang tinggal di daerah konflik. Adalah B.Z. Goldberg, seorang jurnalis Yahudi yang lahir di Boston namun tumbuh besar di pemukiman Yahudi di Yerusalem, yang mencetuskan ide brilian untuk membuat filem dokumenter ini sekaligus berperan sebagai pewawancara.

Berikut trailer-nya,

FYI, paragraf di bawah merupakan paparan mengenai inti cerita dan pesan yang disampaikan filem. Gw menyarankan untuk men-skip tulisan di bawah, karena tulisan gw yakin tulisan gw di bawah tidak menyampaikan cerita seindah dan menyentuh seperti di filem, bagi pembaca berikut:

  1. Yang punya benwit berlebih, sehingga bisa nonton langsung dari yutub, plus syuting update-an 4 tahun kemudian disini.
  2. Fakir benwit yang berniat untuk membeli filemnya langsung atau akan berkesempatan untuk menonton.
  3. Fakir benwit yang punya niat besar untuk menonton, tapi gak punya akses ke filem. Bagi golongan ini, silahkan japri ke gw. Kalau memungkinkan akan gw kirimkan CD yang isinya klip dari yutub (format .flv), yang bisa diputer dengan vlc. Promises adalah filem non-profit. Dari situ gw menyimpulkan boleh dibagikan secara gratis, CMIIW.

Intinya, kalau bisa nonton, jangan baca sinopsis di bawah :P

Gw sendiri sebenarnya kurang paham tentang konflik kedua negara ini. Semasa gw SD, bokap wajib nonton yang namanya Dunia Dalam Berita. Program berita dari dalam dan luar negri yang ditayangkan seluruh stasiun TV setiap hari Pk 21:00 WIB. Setiap kali berita ditayangkan, hampir selalu kata konflik, Hamas, Jalur Gaza disebut, disertai gambar wanita berkerudung, anak-anak serta pria berseragam militer. Tapi gw gak ngerti kenapa kedua negara ini perang terus sejak gw mulai bisa mengingat sampai sekarang. Mungkin perang terlama yang pernah ada setelah gw dilahirkan (cailee… kayak gw orang penting ajah he3x).

Ketika gw menjejak ke perguruan tinggi, berita tentang konflik kedua negara belum surut. Bahkan ada kalanya di dinding-dinding kampus ditempel poster aksi damai turun ke jalan, doa bersama sampai hinaan dan kutukan seram, yang menyuarakan dukungan atau cacian terhadap salah satu pihak. Di titik itu, gw cuman mengambil kesimpulan bahwa perang terjadi karena masalah agama. Kalau sudah masalah agama, sulit dicari jalan damainya karena ada para garis keras terlibat. Bahkan ada teman yang ntah dengar dari paranormal mana bilang, “Israel dan Palestina baru akan damai saat dunia kiamat!” Ada-ada aja -.-”

Well, daripada berpanjang-panjang ria lagi, bagusan gw cerita filemnya aja. Sekali lagi, untuk orang-orang dengan tiga kriteria di atas gw sarankan untuk tidak membaca.

Continue reading ‘Promises: Children of Hope’


Most of the greetings I received this year are different with those I got years before. I have been given loads of greeting in excel files with flash animation and Christmas songs attached. The songs will vary as characters in the animation are clicked.

Among those greetings and celebrations which are getting more creative each year, Christmas has one important meaning. The Son of God, The Son of Man, has been given to human kind as the greatest gift of all.

Merry Christmas 2007. God bless you all.

And yeah of course,

Happy holiday! :D

 

PS: This morning I found a nice article here, a reminder for me.


Sri Rejeki

22Dec07

Saat memulai hari, sempat lupa bahwa hari ini Hari Ibu. Untungnya sempat sarapan blognya Bu Enny. Jadi saya pingin mengucapkan,

Selamat Hari Ibu, kepada Ibu di seluruh Indonesia. Untuk Mamiku tersayang, I love you, Mom :D

——————————————————————————————————————————

Konon ada sebuah restoran seafood yang cukup terkenal di daerah Nongsa, di seberang Bandara Hang Nadim. Konon katanya, restoran ini menjorok ke arah laut sehingga para pengunjung merasa seolah-olah makan di atas laut. Konon katanya lagi, restoran ini memiliki pesona kuliner yang luar biasa, sehingga harganya yang konon membuat geger dunia persilatan, tidak menjadi halangan bagi pengunjung yang senantiasa ramai.

Kebetulan ada seorang teman kantor yang mendapatkan tugas dinas di luar negri. Kami teman seruangannya diundang untuk makan siang di restoran tersebut. Jadilah kemarin siang saya berkesempatan untuk mencicipi sajiannya.

Makanannya

Menu yang kami pesan antara lain kepiting saus pedas, ikan kerapu steam, cah kangkung, udang bawang putih, otak-otak, dan sup asparagus.

Kepiting saus pedasnya enak euy. Walaupun sausnya memiliki rasa yang kuat, tapi manisnya daging kepiting masih terasa. Ikan steam-nya juga enyak enyak enyak. Padahal biasanya saya paling malas makan ikan karena pernah merasakan yang anyir. Ikan yang ini tidak amis. Dagingnya lembut dan manis. Masakan yang lainnya lumayanlah.

Suasananya

Restoran berbentuk persegi panjang, dengan tiga sisinya menghadap ke arah laut. Bangunan berbentuk pondok kayu besar yang sepertinya ingin memberikan nuansa santai. Namun menurut saya penataannya kurang apik. Meja-meja panjang tumplek blek di dalam pondok besar tersebut sehingga saya merasa agak sumpek, gelap, serta berisik. Mungkin jika setiap meja terletak di dalam pondok-pondok kecil yang terpisah, seperti Pondok Daun, Bandung atau Pondok Laguna, Jakarta atau salah satu restoran Sunda di Depok *lupa namanya*, akan terasa lebih nyaman dan privat bagi pengunjung.

Harganya

Kami terdiri dari 15 orang dewasa dengan kemampuan makan yang tergolong rata-rata *kecuali saya yang masih dalam masa pertumbuhan :P * dan 5 anak-anak (4 diantaranya masih balita). Total biaya yang harus dibayarkan 1.8 juta rupiah.

Kesimpulannya

Kalaulah ada rejeki berlebih dan sedang di Batam, bolehlah restoran ini dimasukkan dalam daftar wisata kuliner.

Sri Rejeki, Nongsa


Seorang pejabat perusahaan besar diberikan wewenang untuk merekrut sendiri karyawannya, tanpa campur tangan dari atasannya. Tentunya sang atasan percaya akan kredibilitasnya dalam menentukan karyawan yang terbaik termasuk penentuan reward yang sesuai dalam arti kongruen dengan sumbangsih karyawan terhadap perusahaan.

Sang pejabat memiliki beberapa orang kawan yang memiliki kemampuan yang baik, pengalaman yang menjanjikan, serta dalam keadaan membutuhkan pekerjaan. Mereka memiliki sejarah kerjasama yang baik dan memuaskan. Ketika sang pejabat mulai meniti karirnya, para kawan banyak membantunya. Namun ada satu hal yang menjadi pertimbangan. Para kawan bukanlah WNI sehingga akan menyandang status expatriat yang berakibat pada perbedaan reward dan fasilitas yang signifikan. Pengalaman menyatakan kisaran reward antara 6-8 kali lipat dari karyawan lokal*).

Alternatif lainnya adalah karyawan lokal. Banyak pencari kerja lokal yang mendambakan pekerjaan tersebut. Probabilitas untuk menemukan karyawan yang sesuai cukup besar karena kemampuan yang dibutuhkan tidak terlalu spesifik. Kinerja karyawan lokal juga cukup baik, dibuktikan dengan pekerjaan pada proyek sebelumnya yang banyak mempekerjakan karyawan lokal.

Sang atasan percaya sepenuhnya atas keputusan si pejabat. Sang pejabat juga tidak perlu khawatir akan audit karena perusahaan bertaraf multinasional sehingga perbedaan reward beberapa karyawan hanya menyumbangkan perbedaan yang sangat kecil, hampir tidak terlihat.

Jika Anda berada di posisi pejabat, keputusan apa yang akan Anda ambil?

 

*) Huff… Indonesia memang surganya expat..