Antara Profesionalime dan Persahabatan

15Dec07

Seorang pejabat perusahaan besar diberikan wewenang untuk merekrut sendiri karyawannya, tanpa campur tangan dari atasannya. Tentunya sang atasan percaya akan kredibilitasnya dalam menentukan karyawan yang terbaik termasuk penentuan reward yang sesuai dalam arti kongruen dengan sumbangsih karyawan terhadap perusahaan.

Sang pejabat memiliki beberapa orang kawan yang memiliki kemampuan yang baik, pengalaman yang menjanjikan, serta dalam keadaan membutuhkan pekerjaan. Mereka memiliki sejarah kerjasama yang baik dan memuaskan. Ketika sang pejabat mulai meniti karirnya, para kawan banyak membantunya. Namun ada satu hal yang menjadi pertimbangan. Para kawan bukanlah WNI sehingga akan menyandang status expatriat yang berakibat pada perbedaan reward dan fasilitas yang signifikan. Pengalaman menyatakan kisaran reward antara 6-8 kali lipat dari karyawan lokal*).

Alternatif lainnya adalah karyawan lokal. Banyak pencari kerja lokal yang mendambakan pekerjaan tersebut. Probabilitas untuk menemukan karyawan yang sesuai cukup besar karena kemampuan yang dibutuhkan tidak terlalu spesifik. Kinerja karyawan lokal juga cukup baik, dibuktikan dengan pekerjaan pada proyek sebelumnya yang banyak mempekerjakan karyawan lokal.

Sang atasan percaya sepenuhnya atas keputusan si pejabat. Sang pejabat juga tidak perlu khawatir akan audit karena perusahaan bertaraf multinasional sehingga perbedaan reward beberapa karyawan hanya menyumbangkan perbedaan yang sangat kecil, hampir tidak terlihat.

Jika Anda berada di posisi pejabat, keputusan apa yang akan Anda ambil?

 

*) Huff… Indonesia memang surganya expat..



10 Responses to “Antara Profesionalime dan Persahabatan”

  1. 1 cardepus

    Gw akan memilih orang yang tepat bagi gw, yang akan berada di sisi gw, baik itu expat atau lokal.

    Toh…reward tsb tidak berpengaruh bagi gw, tapi bagi si karyawan, jadi ga ada bedanya gw milih expat atau lokal.

    Tapi berpengaruh bagi perusahaan Car, walaupun nilainya kecil. Mengenai tepat enggaknya si karyawan bukan menjadi isu karena both expat dan lokal menjanjikan.

    Btw jadi penasaran, klo tanya ke prof elu, dia bakal ngasi teka-teki apa yah:mrgreen:

  2. saya akan beli rumah tingkat tiga, jet tempur pribadi dan sebuah pulau mungil..kekeke

    Jangan lupa beli ferrynya, untuk bolak balik pulau mungil😆

  3. Idem sama yang di atas, ditambah buat KTP single biar bisa kawin lagi.:mrgreen:

    *dibacok*

    (canda dulu, masih stress bales komen, ntar seriusnya)

    Set dah, ini kecil-kecil omongannya kawin mulu, dah ngebet yak?:mrgreen:

  4. Gw setuju ama olin.. tapi kalo gw sih prioritasnya tetep cari yang lokal dulu ajah.. kalo toh emang skill yang dibutuhkan ga terlalu spesifik ya kenapa ga memberdayakan bangsa sendiri dulu ajah ketimbang orang luar. Toh orang pintar di Indonesia juga banyak.

    Ini bukan masalah bayar gaji gede ato kecil, perusahaan multinasional mah duit ny cukup berceceran untuk membayar banyak ekspat tapi ini masalah nasionalisme😀 Sudah cukuplah bangsa kita dijajah ratusan tahun, masak udah merdeka masih pengen dijajah. Gw pernah liat hasil kerjaan orang-orang ekspat yang gajinya 50x lebih gede dari orang lokal tetapi kadang hasilnya masih lebih bagus hasil kerjaan orang-orang lokal.

    Kalo emang kita punya kuasa untuk membuat bangsa lebih maju kenapa ga digunakan dengan sebaik-baiknya, toh masalah utamanya pun selesai yaitu kita tetep mendapatkan karyawan untuk mengisi posisi yang lowong😉

    Can’t agree more with you Bob.. FYI, para expat gak selalu penjajah loh:mrgreen:

  5. 5 cardepus

    Maksud gw tepat, bukan tepat bagi perusahaan, tapi tepat bagi gw. Apakah mereka yang gw pilih itu akan berada disisi gw, atau malah ntar jadi musuh gw.

    Bukannya nepotisme yah😛 Berdasarkan cerita elo, kedua2nya memiliki skill yang cocok untuk tuh perkerjaan. Yah, kalau kedua2nya baik, gw milih orang yang bisa gw ajak kerjasama lah. Inilah skill yang lain, yaitu soft-skill.

    Elo bilang nilai reward berpengaruh ke perusahaan, tapi pengaruh ke gw kaga?? Kalau kaga pengaruh mah bodo teing lah.

    Kalo gitu gw simpulkan elu pilih expat, secara orang yang hampir pasti bekal dukung elu ya si expat. Kalo si lokal kan baru ketauan keberpihakannya setelah dia kerja.

  6. olin:
    taunya dia bisa bekerja sama ama kita gimana lin?

  7. @bobz: menurut ceritanya syn, si expat2 inih adalah teman2 lamanya si pejabat yang udah mengarungi lautan kehidupan, susah senang ditanggung bersama-sama, bedanya cuman pejabat udah kerja, expat belum kerja.

    Kesimpulan… seharusnya sih si expat bisa diajak kerjasama

  8. hooo.. jadi langsung mengarah ke si ekspat yah.. gw kira tanpa mempertimbangkan dia udah kenal dgn si ekspat itu.. jd masih milah milih dulu.. pengalaman gw sih.. biar kata temen baik nan sobat kental belum tentu cocok diajak kerja bareng.. apalagi malah bisa menimbulkan keretakan diantara kita *halah*

  9. eh mereka udah pernah kerja bareng yah sebelumnya😛 baik2.. kalo gitu memang si olin milih si ekspat yah😀

  10. Buat dulu kriteria seperti apa orang yang layak menduduki posisi tersebut, terus buat tim pewawancara (tentu orang-orang yang ahli dibidangnya), kemudian buat test…dan terakhir tes kesehatan.
    Apapun, profesional lebih nyaman…teman yang kita pilih belum tentu cocok, dan suatu ketika bahkan bisa menohok kita dari belakang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: